Wirausaha Hijau untuk Mahasiswa Indonesia: The Next Big Thing?


Dear Civitas ITB,

Salam Ganesha!

Kita sebagai (calon) pemimpin bangsa berlatar belakang apapun, memiliki tanggung jawab dan peran sebagai pengembang ekonomi. Namun, apakah ini cukup? Ini terlintas di pikiran saya sebagai mahasiswa tingkat akhir di SBM.
Berikut saya ceritakan sedikit knowledge dan buah pikiran dari beberapa mahasiswa ITB mengenai entrepreneurship. Semoga menginspirasi. Terima kasih telah membaca🙂

Wirausaha Hijau untuk Mahasiswa Indonesia: The Next Big Thing?

Wirausaha kerap menjadi trend dan isu menarik sebagai solusi pengembangan kesejahteraan di negara maju, berkembang, maupun negara transisi seperti Indonesia. Berita baiknya, sebagai negara G-20, Indonesia menempati peringkat 37 dalam business sophistication dan 36 dalam innovation dari 137 negara (Global Competitiveness Report, World Economic Forum, 2011). Sayangnya, berita buruknya, secara persentase jumlah pengusaha dan rasio perbandingan dengan jumlah pegawai, ternyata masih jauh di bawah yang dibutuhkan, padahal seharusnya wirausaha ini bisa menjadi fondasi perekonomian nasional, setidaknya itulah menurut Kementerian Usaha Kecil dan Menengah Indonesia.

Pada dasarnya, pengembangan kewirausahaan di Indonesia selalu membutuhkan kerjasama strategis dari berbagai pemangku kepentingan, yakni akademisi sebagai knowledge developer, pemerintah sebagai policy maker, media sebagai publicity builder, hingga praktisi sebagai role model. Lalu, bagaimana peran mahasiswa sebagai future leaders dalam dunia wirausaha? Bisakah mahasiswa membantu mengubah mindset dan penggerak semangat kewirausahaan? Kedua pertanyaan ini mungkin terlalu kompleks. Untuk saat ini, sebagai mahasiswa mari kita fokus pada hal yang lebih urgent dan bisa dipelajari, misalnya model wirausaha seperti bagaimana yang terbaik untuk Indonesia?

Sebelum melangkah lebih jauh, enaknya kita samakan pemahaman dulu tentang apa itu wirausaha dan mengapa penting. Wirausaha adalah semua orang yang memiliki mindset petualang dalam karir untuk menginovasikan nilai tambah terhadap sesuatu, kemudian menjadikannya peluang untuk kembali melipatgandakan nilai tersebut demi perkembangan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Perlu ditekankan, bahwa wirausaha tidak untuk semua orang, namun bisa diasah (kalau semua, lalu siapa yang jadi pegawainya?). Awalnya tujuan wirausaha ada dua, yakni kesejahteraan ekonomi dan kemakmuran sosial. Namun sekarang, juga ada lingkungan hidup (sustainable development), atau Bumi, satu-satunya rumah kita.

Kenyataan berkata pahit, semenjak era industrialisasi, privatisasi dan kapitalisme berkembang pesat di 1960, kiblat bisnis dan wirausaha selalu adalah kepada ekspansi tanpa batas dan globalisasi. Apa akibatnya? Perkembangan ekonomi dan konservasi lingkungan pun bertolak belakang. Tidak heran, ketika ekonomi terlalu panas, krisis finansial terjadi di banyak belahan dunia. Lalu karena semakin menipisnya sumber daya alam, negara-negara harus transisi menuju low carbon economy. Hal ini sudah mulai disadari oleh Indonesia melalui pernyataan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bahwa Green Economy adalah new world ideology di abad ke-21. Di Indonesia sendiri, green agriculture mungkin masih bisa menjadi competitive advantage.

Menggandengkan ekonomi dan lingkungan agar berjalan bersama sangatlah sulit dalam kenyataannya. Masalah terbesarnya adalah, ketika seorang calon pengusaha berfikir untuk mulai hijau, mereka baru mampu meng-hijaukan bisnis dari salah satu bagiannya saja. Padahal, ada 10 dimensi yang bisa dihijaukan (green value chain). Konteks dasar ramah lingkungan yang dimaksud disini lebih dari sekedar konsep 6R, yakni Reduce, Reuse, Recycle, Refine, Recovery, dan Refine to Energy. Kontroversi yang terjadi adalah, bisnis tidak akan pernah ada yang 100% green, karena selama manusia beraktivitas, emisi dan pemanfaatan sumber daya pasti terjadi. Maka, benarkah yang bisa dilakukan hanya meminimalisir itu semua?

Mari kita sedikit meneliti fakta lebih jauh. Menurut seorang analis, bisnis seluruh dunia dapat menghemat 15 miliar US Dolar hanya dengan mengefisiensikan 30% konsumsi energi dari seluruh proses bisnisnya. Yang lebih parahnya lagi, terdapat 5 hingga 6 kali lebih banyak produk berputar di seluruh dunia (dengan total emisi 378 ppm) dibandingkan dengan yang mampu ditampung Bumi (kapasitas 350 ppm).

Di Indonesia sendiri, ada empat Millenium Development Goals yang paling sulit tercapai, dua di antaranya adalah pengentasan kemiskinan (ekonomi) dan konservasi lingkungan. Bisakah ini diatasi melalui kewirausahaan hijau? Ketika seorang calon pengusaha ingin memulai perjalanannya, salah satu keraguannya pasti adalah jaminan keberlangsungan usaha, yang mana diuji melalui efektivitas dan efisiensi dari proses bisnis. Green entrepreneurship model menawarkan efisiensi kinerja pada sepuluh rantai nilai, dan di saat yang sama mengefektifkan peluang keuntungan, karena awareness dari calon customer terhadap produk ramah lingkungan, termasuk di Indonesia, kian meningkat.

Kesimpulan sementara kita adalah, bahwa pengembangan karakter kewirausahaan di Indonesia, tidak hanya diperlukan dari segi kuantitas, tapi juga dari segi kualitas, yang awalnya orientasi hanya pada keuntungan, harusnya bisa juga terhadap pelestarian lingkungan, agar keberlanjutan yang menjadi idaman kita semua dapat perlahan-lahan dicapai. Siapkah kita, sebagai mahasiswa dan institut pendidikan menjadi driver dari perubahan yang penting dan mendesak ini? Bagaimana kebutuhan kita untuk belajar dari negara-negara lain?

Tidak hanya dengan menulis artikel ini, kami pun sedang mengupayakan sebuah program yang dapat menumbuhkembangkan solusi dari isu ini. Sebelum itu, kami memerlukan feedback apapun dari rekan-rekan sekalian dengan mengemailkan ke estar.itb2011 disertai biodata singkat. Terima kasih.. Have a nice day!🙂

Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Merdeka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: