BERITA MENGENAI KEGIATAN ITB DI MEDIA MASSA NASIONAL


BERITA MENGENAI KEGIATAN ITB DI MEDIA MASSA NASIONAL
kurun waktu 24 Januari 2012. silakan disimak!🙂

1. Kolom: Pemerintah Bersih, Tema Perjuangan Mahasiswa 34 Tahun Lalu, Musni Umar, Selasa, 24/01/2012 08:47 WIB
Jakarta – 34 Tahun yang lalu, tepatnya 21 Januari 1978, merupakan hari yang amat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Setidaknya terdapat tiga peristiwa besar pada saat itu. Pertama, terjadi pembungkaman dan perampasan kebebasan terhadap seluruh pimpinan mahasiswa yang tergabung dalam dewan mahasiswa/senat mahasiswa, beberapa tokoh organisasi mahasiswa ekstra unversiter, tokoh organisasi pemuda dan beberapa tokoh nasional seperti Prof Ismail Suny, HR. Dharsono, AM. Fatwa, Arief Rachman, Siner Key Timu, dan lain-lain. Semuanya ditangkap dan ditahan dalam operasi gerak cepat oleh Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang dipimpin Laksamana Soedomo, karena dituduh mengganggu stabilitas nasional. Kedua, hak-hak demokrasi dan institusi demokrasi yang dibangun secara demokratis oleh para aktivis mahasiswa melalui kelembagaan dewan mahasiswa/senat mahasiswa, dibekukan oleh pemerintah rezim Orde Baru, kemudian membentuk badan koordinasi kemahasiswaan (BKK) dan normalisasi kehidupan kampus (NKK), yang sepenuhnya dikontrol. Ketiga, surat kabar sebagai salah satu pilar demokrasi yang amat penting, dibredel oleh pemerintah Orde Baru.
Surat kabar-surat kabar yang dibredel yaitu Kompas, Sinar Harapan, Pelita, Merdeka, The Indonesia Times, dan sinar pagi. Alasannya, karena dianggap membahayakan stabilitas nasional lantaran memanas-manasi mahasiswa untuk bergolak. Dalam buku Biografi Soekotjo Soeparto “Jejak Sang Demonstran dari Salemba sampai Kramat Raya” (2010)disebutkan bahwa tujuan operasi gerak cepat itu untuk menghentikan gerakan mahasiswa demi tegaknya stabilitas nasional, kelangsungan pembangunan nasional, dan suksesnya Sidang Umum MPR 1978. Akan tetapi alasan sebenarnya, rezim Orde Baru amat khawatir membesarnya gerakan mahasiswa di kala itu, sebab diawali peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1977 di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dihadiri 3.000 pimpinan mahasiswa dari seluruh Indonesia, yang melahirkan Ikrar Mahasiswa yang diantaranya “mendesak agar MPR segera menyelenggarakan Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Pimpinan Nasional/Presiden Republik Indonesia tentang penyelewengan-penyelewengan dalam pelaksanaan UUD 1945 dan Pancasila. Oleh karena, tuntutan yang digulirkan mahasiswa dianggap membahayakan kelangsungan rezim Orde Baru, maka gerakan mahasiswa tidak bisa tidak harus diberangus dengan membubarka dewan mahasiswa/senat mahasiswa dan menahan seluruh pimpinan dewan mahasiswa/senat mahasiswa di seluruh Indonesia.
Sejak itu, pemerintahan Orde Baru berjalan tanpa ada yang mengontrol karena mahasiswa dibungkam, media massa dibredel, dan para anggota parlemen di kala itu tidak lebih sebagai 5 D (datang, daftar, duduk, dengar, duit). Akibatnya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) merajalela. Kondisi tersebut mengilhami para aktivis pergerakan mahasiswa 1998 untuk merumuskan tema sentral perjuangan yang kemudian mengambil isu korupsi, kolusi dan nepotis ( KKN). Dengan isu KKN, mampu menarik dukungan rakyat Indonesia dan dunia internasional, dan akhirnya berhasil memaksa Presiden Soeharto berhenti dari kekuasaannya setelah berkuasa selama 32 tahun. Relevansinya dengan Kini. Tidak ada yang bisa membantah bahwa masa kini merupakan kelanjutan daripada masa dahulu. Keberhasilan rezim Orde Baru membungkam media massa dan mahasiswa, telah melanggengkan kekuasaan Orde Baru. Tetapi rezim Orde Baru tidak memperbaiki diri dengan mewujudkan “pemerintah yang bersih (clean government”) sebagaimana yang disuarakan gerakan mahasiswa 77/78. Begitu juga, rezim Orde Reformasi dan anggota parlemen di semua tingkatan yang lahir dari gerakan reformasi 1998, belum mereformasi diri dan belajar dari sejarah, sehingga mereka terus mengamalkan apa yang dituntut dan diperjuangkan para mahasiswa 34 tahun lalu. Bahkan tuntutan gerakan reformasi dengan isu sentral KKN, telah dilupakan dan dikubur dalam-dalam. Akibatnya, pemerintah yang bersih, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang diperjuangkan mahasiswa dari masa ke masa, belum menjadi kenyataan. “Clean government” yang dperjuangkan para pimpinan mahasiswa dan mahasiswa 34 tahun lalu untuk untuk diamalkan, bahkan dalam realitas semakin jauh dari yang diharapkan. Pada hal dapat dipastikan kalau wujud pemerintah yang bersih, kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai, akan lebih cepat maju, tidak seperti sekarang. Kesimpulan. Pemerintah yang bersih (clean government) yang dituntut dan diperjuangkan para mahasiswa 34 tahun yang lalu, masih sangat relevan dengan kondisi bangsa dan negara Indonesia saat ini. Orde Reformasi yang lahir dari gerakan mahasiswa 1998 yang mengusung isu KKN adalah merupakan kelanjutan dari perjuangan mahasiswa 1978 yang mengambil isu sentral “clean government” (pemerintah yang bersih). Akan tetapi, sampai usia Orde Reformasi memasuki 13 tahun, pemerintah yang bersih belum menjadi kenyataan. Padahal pemerintah yang bersih merupakan kunci berakhirnya praktik KKN yang menjadi simbol perjuangan reformasi. Semoga para pemimpin bangsa Indonesia dan seluruh anggota parlemen di semua tingkatan, sadar bahwa sejarah akan selalu berulang kalau bangsa ini tidak mau memperbaiki diri. Tuhan telah mengingatkan kepada kita, “Jika Kami (Tuhan) hendak menghancurkan suatu negeri, maka para pemimpinnya dibiarkan hidup bermewah-mewah dan berbuat fasik di dalamnya.” Moga-moga kita terhindar dari kehancuran. *) Musni Umar, Ph.D adalah sosiolog, aktivis pergerakan mahasiswa 77/78
http://www.detiknews.com/read/2012/01/24/084750/1822801/103/pemerintah-bersih-tema-perjuangan-mahasiswa-34-tahun-lalu

2. Mendiknas Siapkan Rp 150 M Bangun Institut Teknologi di Luar Pulau, Sabtu, 21/01/2012 19:24 WIB
Surabaya – Untuk memperbanyak jumlah mahasiswa teknik, M Nuh sudah mempersiapkan banyak cara. Tahap awal, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini telah menyiapkan dana Rp 150 M. Dana ini digunakan membangun Institut Teknik di Kalimantan (Balikpapan) dan Sumatera. Hal ini diungkapkan M Nuh usai peresmian gedung laboratorium elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). M Nuh mengatakan dana sebesar Rp 150 M itu untuk masing-masing wilayah, dan bukan termasuk dana untuk tanah. “Sudah kami alokasikan Rp 150 M untuk masing-masing Institut Teknik di Kalimantan dan Sumatra. Dana itu juga bukan termasuk untuk kebutuhan tanah karena lahan wajib disediakan pemerintah daerah,” kata M Nuh, Sabtu (21/1/2012). Lahannya, lanjut M Nuh, telah disediakan oleh pemerintah daerah masing-masing. Sejauh ini, lahan yang sudah tersedia dan siap dibangun yakni seluas 300 hektare. Namun, proses pembangunannya sengaja tidak langsung tuntas. Sebab, untuk mendirikan sebuah institusi atau lembaga pendidikan, dilihat juga dari sisi rekrutmen. “Percuma kalau pembangunannya langsung tuntas. Rekrutmen mahasiswanya kan juga bertahap, mulai dari semester 1 kemudian tahun depan masuk di tingkat atau semester 3 begitu seterusnya setiap tahun,” tuturnya. M Nuh mengatakan, kalau pembangunannya dipaksa harus langsung tuntas, ia yakin beberapa ruangan yang tidak terpakai akan rusak tanpa sebab. Lagipula, banyak hal lain yang harus dipersiapkan. Seperti misalnya tenaga pengajar atau dosen untuk mengajar di dua tempat tersebut. Pihaknya mengaku sebelumnya telah mengadakan forum non formal dengan beberapa kerabatnya di ITS dan ITB untuk memenuhi SDM di Kalimantan dan Sumatera. Paling tidak, rasio jumlah dosen dengan mahasiswa yakni 1:15. “Kalau mahasiswa angkatan pertama kapasitasnya 15 ribu, tenaga pengajarnya harus tersedia 1.000. Maka kami juga harus memikirkannya,” terang M Nuh. Ia menambahkan, dosen yang mengajar juga harus bergelar doktor dan telah menempuh jenjang pendidikan S2. Maka mulai sekarang pihaknya mengaku telah mulai merekrut dosen-dosen tersebut untuk disekolahkan terlebih dahulu. “Perlu kerja keras memang, tapi harus kita lakukan,” tandasnya.
http://surabaya.detik.com/read/2012/01/21/192459/1821968/466/mendiknas-siapkan-rp-150-m-bangun-institut-teknologi-di-luar-pulau

3. Bisnis Turbin Laut Anak ITB, Jumat, 20/01/2012 13:30 WIB
Jakarta – Sebanyak 13 anak negeri yang merupakan mahasiswa dan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil memanfaatkan arus laut sebagai pembangkit listrik sebesar 10 kVA yang bisa menyuplai kebutuhan listrik satu desa. “Tidak hanya itu saja, Februari nanti kita sudah akan memasang turbin di Jembatan Suramadu bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum-Binamarga, yang akan menyalakan 1.000 lampu jembatan Suramadu,” kata Fitus deus prizfelix, salah satu anggota pengembang turbin arus laut yang juga alumni ITB dari PT TiFiles Indonesia, di JCC, Jakarta, Jumat (20/1/2012). Deus mengungkapkan, awal ide pengembangan arus laut berawal dari proyek pembangkit menggunakan arus sungai. “Di 2005 kita dibimbing mantan rektor ITB, almarhum Iskandar Alisabana, melakukan banyak penelitian, dulu awalnya hanya 10 orang mahasiswa. Sebelum pembimbing kami meninggal dunia, berpesan, jangan sampai penelitian ini hanya penghias perpustakaan,” ujarnya. “Dengan tekat bulat, 2006 kita berhasil mengembangkan turbin dengan menggunakan arus sungai. Waktu itu turbin kami baru menghasilkan 500 watt. Kecil masih, untuk satu rumah saja masih kurang,” ungkap Deus. Pengembangan terus dilakukan timnya yang sudah bertambah menjadi 13 orang. Akhirnya pada 2008 setelah melakukan beberapa percobaan, turbin dipasang di laut. “Pada 2008 kita pertama kali pasang di Pantai Mutiara, Jakarta. Dan listrik yang dihasilkan bisa meningkat mencapai 2.500 watt,” ujarnya. Percobaan kedua pada awal 2009, dilakukannya dengan memasang turbin di Nusa Penida, Bali. “Daya listrik yang bisa dihasilkan meningkat lagi menjadi 5.000 watt, dan pada akhir 2009 turbin kami sudah mampu menghasilkan daya sampai mencapai 10 kVA atau kasarnya sudah mampu menghidupkan listrik satu desa,” tegasnya. Ditanya berapa dana yang dihabiskan untuk pembangunan turbin arus laut ini. “Wah, kalau untuk penelitiannya saja dana yang dihabiskan bisa mencapai miliaran rupiah, dana tersebut ada yang berasal dari sumbangan almarhum Prof. Iskandar, dan pribadi masing-masing, dan sumbangan fasilitas dari universitas kami, itu belum termasuk dana lain-lain sampai terciptanya turbin baku buatan kami,” ungkapnya. Dari semua komponen turbin, semuanya berasal dari buatan lokal, hanya satu bahan yang harus diimpor yakni magnet, karena tidak ada dijual di Indonesia. “Bagi yang berminat, kami membandrol harga Rp 400 juta dan dari berbagai percobaan, lifetime turbin kami bisa lebih dari 5 tahun,” katanya. Ditambahkan CEO project ini, Nurana Indah Paramita, selain proyek Suramadu, Timnya juga sudah bekerjasama dengan LIPI-Sungai balai besar teknik teknologi tepat guna-Subang, dan Kementerian Riset dan Teknologi. “Apalagi Pak Dahlan (Menteri BUMN) sangat tertarik sekali, kami akan lakukan pertemuan untuk bahas proyek ini untuk pengembangan energi terbarukan untuk PLN,” kata Pemenang I Katagori Mandiri Young Technopreneur yang diselenggarakan Bank Mandiri 2011 tersebut. Berminat? Anda bisa menghubungi alamat di bawah ini: Alamat : Sampoerna Strategic Square Jl. Jendral Sudirman kav 45-46 South Tower, 30 floor Jakarta.Info,
www.tfiles-indonesia.comhttp://finance.detik.com/read/2012/01/20/133039/1820949/480/bisnis-turbin-laut-anak-itb

4. Wamen ESDM: Di India, China, & Vietnam Tak Ada Subsidi BBM, Kamis, 19/01/2012 16:33 WIB
Jakarta – Pemerintah saat ini mengaku belum bisa menghapus kebijakan subsidi BBM meskipun anggarannya sudah sangat besar. Kondisi ini berbeda dengan India, China, dan Vietnam yang tidak menganut sistem subsidi BBM. Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengatakan, di ketiga negara tersebut transportasi umumnya yang disubsidi pemerintah sehingga kondisinya nyaman. “Di India maupun China, dan bahkan Vietnam tidak ada subsidi BBM tetapi transportasi umum disubsidi sehingga nyaman dan industri nasionalnya meningkat pesat,” kata Widjajono saat ditemui di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (19/1/2012). Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan pemerintah Indonesia menggelontorkan anggaran yang cukup besar untuk subsidi BBM. Di 2011, subsidi BBM untuk transportasi dan elpiji adalah Rp 165 triliun dan subsidi untuk listrik yang sebagian besar diakibatkan oleh BBM mencapai Rp 66 triliun. Sehingga total subsidi energi yang harus dikeluarkan pemerintah mencapai Rp 231 triliun, padahal pendapatan pemerintah dari migas Rp 272 triliun. Kondisi tersebut berbeda dengan negara-negara Amerika Latin yang anti neolib seperti Brasil, Argentina, dan Chili yang tidak memberikan subsidi BBM. Namun negara-negara ini mengembangkan BBN (Bahan Bakar Nabati) dan industri nasional (mobil, pesawat, senjata dan pertanian). Bahkan Brasil sekarang menjadi negara idola di samping Rusia, India, China, dan Korea (BRICK). Brasil bahkan sudah menguasai teknologi migas lepas pantai di samping cadangan dan produksi minyaknya meningkat pesat.
http://finance.detik.com/read/2012/01/19/163312/1820255/1034/wamen-esdm-di-india-china-vietnam-tak-ada-subsidi-bbm

5. Ini Komentar Wamen ESDM Soal Pertamax yang Bikin DPR Kesal, Kamis, 19/01/2012 11:42 WIB
Jakarta – Anggota Komisi VII DPR kesal dengan pernyatan Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo soal pertamax yang dinilai asal-asalan. Bagaimana sebenarnya pernyataan Wamen ESDM? Komentar Wamen ESDM itu dilontarkan usai acara penandatanganan nota kesepahaman (Mou) antara Kementerian ESDM dengan Badan Intelijen Negara (BIN), Selasa (17/1/2012). Widjajono merespons kekhawatiran Pertamina yang harus bersaing dengan SPBU asing jika pemerintah memberlakukan kebijakan pembatasan konsumsi BBM subsidi. Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini meminta Pertamina jangan melebih-lebihkan. Menurutnya, Pertamina bisa dengan mudah menciptakan pertamax dari produk premiumnya yang cukup banyak saat ini. “Bikin pertamax itu cuma tambah aditif. Mungkin kita impor aditifnya saja. Jadi kalau Pertamina pindah ke pertamax, mereka makin siap. Karena nggak ribet urusin subsidi, yang dibayar terlambat. Jadi kalau ke pertamax, Pertamina nggak masalah,” kata Widjajono kala itu. Pernyataan Widjajono inilah yang bikin anggota Komisi VII DPR kesal. Anggota Komisi VII DPR Bambang Wuryanto menuding Wamen ESDM tak benar. “Selama saya belajar teknik kimia, tidak ada teori seperti itu yang diajarkan kepada saya. Mana ada premium dicampur zat aditif langsung bisa jadi pertamax,” kata Bambang dalam rapat dengar pendapat dengan Pertamina di Gedung DPR kemarin. Bahkan beberapa anggota Komisi VII lainnya juga tambah ‘geram’ setelah mendapatkan penjelasan dari Direktur Pengolahan Pertamina, Edi Setianto yang mengatakan untuk menjadi pertamax, premium tidak bisa hanya dicampur dengan zat aditif. “Kilang Pertamina memang sejak awal didesain untuk memproduksi premium, kalaupun ingin mengubah menjadi produksi pertamax, tidak segampang itu, perlu revamping kilang dulu dan kilangnya harus sudah RFCC dan PLBC,” jelas Edi. Apalagi dikatakan Edi, dari semua kilang yang dimiliki Pertamina, hanya kilang Balongan saja yang bisa produksi Pertamax. “Namun kapasitasnya hanya sekitar 1 juta barel saja. Tentunya untuk memenuhi kebutuhan Jawa saja jika dilakukan pembatasan, tidak akan cukup,” ujarnya. Memang, kata Edi, ada campuran zat untuk bisa memproduksi pertamax, yakni ada campuran low octan 20% dan zat lainnya. “Namun zat aditif yang dimaksudkan jumlahnya sangat kecil untuk bisa mengubah premium ke pertamax yang memiliki oktan 92,” terangnya. Mendapatkan penjelasan tersebut, Bambang yang biasa disapa Bambang Pacul langsung meminta Pertamina menjelaskan langsung ke Wamen ESDM. “Nah, itu dijelasin ke Wamen ESDM, biar dia paham,” tegas Bambang. Anda setuju siapa?
http://finance.detik.com/read/2012/01/19/113545/1819697/1034/ini-komentar-wamen-esdm-soal-pertamax-yang-bikin-dpr-kesal

6. Internasionalisasi Pendidikan=Penjajahan Pendidikan?, Andi Iqbal Burhanuddin – detikNews, Kamis, 19/01/2012 11:16 WIB
Jakarta – Akankah dengan masuknya Perguruan Tinggi Asing (PTA) maka dunia pendidikan kita akan mengalami nasib seperti bangkrutnya perusahaan lokal karena tidak mampu bersaing dengan produk China yang secara bebas membanjiri pasar lokal kita? Pro dan kontra sehubungan dengan rencana internasionalisasi pendidikan tinggi (higher education) yang membuka pintu dan peluang kerjasama pendirian perguruan tinggi asing di Indonesia sebagai wujud penyejajaran perguruan tinggi dalam pergaulan internasional telah ramai diperbincangkan di media dan di forum komunikasi pendidikan lainnya. Seperti yang tercantum dalam Rancangan Undang-Undang Pendidikan Tinggi (RUU PT), Pasal 32 RUU PT tersebut menyatakan bahwa Internasionalisasi Pendidikan Tinggi dilaksanakan melalui; penyelenggaraan pembelajaran yang bertaraf internasional; Kerja sama internasional antara lembaga penyelenggara pendidikan tinggi Indonesia dan lembaga penyelenggara pendidikan tinggi negara lain; dan penyelenggaraan pendidikan tinggi oleh lembaga penyelenggara pendidikan tinggi negara lain. Pada dasarnya, pasal ini lahir dengan harapan, yaitu pembentukan masyarakat intelektual yang mandiri; pembukaan wawasan pada mahasiswa sebagai bagian dari masyara kat internasional dan pemajuan nilai-nilai dan budaya bangsa Indonesia dalam pergaulan internasional. Kontroversi dan ketakutan yang berlebihan seputar pemberlakuan RUU PT tersebut pun muncul karena banyak kalangan menilai RUU PT terlihat menyerupai UU BHP dan cenderung meliberalisasi pendidikan tinggi, dan tanpa disadari program ini kemudian akan berubah menjadi komoditas bisnis. Bahkan, internasionalisasi pendidikan tinggi dalam sebuah pertemuan oleh mantan Wamendiknas, Fasli Jalal diibaratkannya pisau bermata dua yaitu dipandang sebagai kebijakan UNESCO adalah positif dan menjadi pendorong bagi tiap perguruan tinggi kita untuk bisa bersaing dalam kancah persaingan global dan bermanfaat besar bagi ilmu pengetahuan, pembangunan sosial dan ekonomi, dan juga dapat melukai anak-anak bangsa. Dan berbagai pihak termasuk Komnas Pendidikan pun menilai dari sisi lain, akan semakin menjauhkan akses pendidikan tinggi dari rakyat menengah ke bawah dan akan menimbulkan ancaman bagi eksistensi kekayaan budaya Nasional, Indonesia justru akan kehilangan keunikan pelajaran mengenai buday a Indonesia dan mahasiswa asing pun tidak dapat mempelajari keaslian Indonesia. Penolakan besar-besaran juga muncul dari asosiasi perguruan tinggi swasta menyusul adanya rencana kebijakan yang memperbolehkan Perguruan Tinggi Asing masuk ke Indonesia tersebut akan mengancam eksistensi pendidikan tinggi terutama perguruan tinggi swasta (PTS) di dalam negeri. Tidak heran karena pada kenyataan terjadi bahwa banyak perguruan tinggi di negeri ini menghasilkan sarjana yang sepertinya tidak pernah kelihatan kuliah tiba-tiba diwisuda dengan embel-embel gelar yang menyertai depan dan belakang namanya. Perguruan tinggi seperti inilah yang nantinya akan tergilas oleh cara kerja pendikan global masa mendatang. Era globalisasi pendidikan. Menghadapi persaingan pasar global sekarang ini, persoalan dan dinamika pendidikan nasional telah menjadi perhatian mendasar bagi pemerintah, sektor swasta maupun masyarakat pada umumnya. Pada era globalisasi perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat menuntut munculnya beragam jenis dan kualitas produk yang lebih kompetitif sesuai dengan kebutuhan masyarakat global (globally needed). Hal tersebut tidak hanya berlaku dalam dunia ekonomi bisnis tetapi juga dalam organisasi non-profit seperti organisasi pendidikan sabagai wadah pembentuk sumber daya manusia yang unggul di masa depan. Oleh karena itu membangun internasionalisasi pendidikan tinggi telah menjadi bentuk kesadaran di semua negara di dunia sebagai upaya meningkatkan kapasitas pendidikan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat di banyak Negara. Pendapat beberapa pakar pendidikan bahwa dalam menghadapi kompetisi sosial ekonomi global yang pada dasarnya adalah rekayasa ekonomi yang menempatkan manusia dalam era s erba keterbukaan, sebagai kuncinya adalah tenaga manusia yang handal yang mampu berkompetisi di tengah-ditengah masyarakat yang kompetitif. Amerika Serikat melalui Presiden Barack Obama ketika berkunjung ke Indonesia, November 2010 telah menandatangani suatu kesepakatan kemitraan bidang pendidikan tinggi dengan pemerintah Indonesia. Dalam perjanjian kemitraan tersebut, Amerika akan membantu meningkatkan mutu pengajaran dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi sebagai salah satu bentuk membangun jejaring internasionalisasi bidang pendidikan. Demikian pula negara-negara Uni Eropa yang telah lama menyadari bahwa ke depan tantangan global akan semakin besar dan pendidikan, ilmu pengetahuan dan penelitian akan menjadi sebuah urat nadi. Eropa dengan keterikatan dalam Perjanjian Bologna tentang penyetaraan visi, misi dan jenjang pendidikan, mengharuskan setiap Negara, termasuk Negara-negara persemakmuran mengirimkan para pelajarnya untuk belajar di luar negeri (study abroad) sebagai konsep internasionalisasi pendidikan mereka. Hasilnya, pendidikan mereka bisa menjadi pendorong kekuatan bidang sosial ekono mi negaranya masing-masing. Dan karena mereka menyadari bahwa dinamika pertumbuhan ekonomi dunia pada masa lalu yang dikuasai oleh negara-negara dari benua Amerika dan Eropa kini terlihat bergeser ke Asia, di depan mata Asia sebagai tantangan besar ke depan sehingga merasa perlu berpartner dengan perguruan tinggi di Asia sebagai wujud pembaharuan menuju tantangan globalisasi dunia ilmu pendidikan dan penelitian. Seperti yang dilansir sebuah media bahwa pada acara Konferensi Pendidikan Internasional “Going Global 4” yang digelar British Council di Queen Elizabeth II Center London tahun 2010 lalu, negara-negara Eropa khususnya Inggris, sedang berusaha memetakan potensi Indonesia untuk kepentingan pelaksanaan kolaborasi internasionalisasi pendidikan tinggi. Universitas Indonesia, UGM dan ITB adalah PT dari 11 universitas negeri dan swasta di Indonesia yang ingin menempatkan diri sebagai bagian dari kelompok universitas yang go international serta sebagai Universitas Riset Kelas Dunia tidak menyia-nyiakan peluang tersebut dan terpilih menerima dana awal pengembangan kemitraan dengan University of Newcastle dalam kerja sama program bidang pendidikan dan penelitian (Kompas.com). Kita semua berharap, Internasionalisasi pendidikan tinggi harus menjadi momentum yang tepat dalam menghasilkan lulusan dengan kualifikasi internasional yang bisa bersaing dengan lulusan dari berbagi universitas di seluruh belahan dunia. Tentunya, dalam praktek internasionalisasi pendidikan tinggi ini mental sumer daya manusianya harus siap dari segala perubahan dan dengan tetap tidak kehilangan jati diri dan tidak meninggalkan kekayaan nilai-nilai budaya leluhur yang kita miliki.http://www.detiknews.com/read/2012/01/19/111610/1819672/471/internasionalisasi-pendidikanpenjajahan-pendidikan

7. ‘Proyek Mobil Nasional Harus Dipegang oleh Profesional’, Selasa, 17/01/2012 13:45 WIB
Jakarta – ‘Membangun industri mobil’ tidaklah mudah. Hal tersebut jelas lebih sulit dan berbeda dengan proyek ‘membuat mobil’. Untuk itu, langkah ‘membangun industri mobil’ haruslah ditangani oleh orang-orang profesional. Hal tersebut diungkapkan oleh Dasep Ahmadi yang merupakan salah satu pengusaha yang telah lama bergerak di bidang otomotif. Salah satu karyanya adalah dengan melahirkan Mobil Rakyat. “Membuat mobil beda dengan membangun pabrik atau industri mobil. Itu beda. Kalau membuat mobil, semua bengkel karoseri bisa, kalau kita kumpulkan 1.000 bengkel, kita bisa bikin 1.000 mobil,” katanya kepada detikOto, Selasa (17/1/2012). “Tapi membangun industri mobil itu sangat berbeda dan jauh lebih sulit karena berhubungan dengan daya saing, infrastruktur, R&D (Research And Development),” ujar lulusan Teknik Mesin ITB tahun 1984 ini. Nah, kalau Indonesia benar-benar mau membangun sebuah industri mobil nasional yang kuat di masa depan, maka hal itu harus benar-benar dipersiapkan dengan matang. Hal itu juga harus dilakukan dengan pendekatan profesional. Terlebih, sebenarnya Indonesia sudah punya pengalaman ketika membangun Timor dan Texmaco, hal itu plus-minusnya tentu bisa diambil untuk dipelajari. “Bila memang mau bersama-sama membangun industri nasional, industriawan harus diberi peran. Karena membangun industri bukan perkara gambang,” imbuh Dasep. “Ibaratnya, bikin ayam goreng itu gampang, tapi membuat industri ayam goreng seperti McD itu kan tidak gampang. Sama seperti mobil,” pungkasnya. Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam catatannya yang berjudul ‘Jangan Paksa Tiba-Tiba Makrifat’ menjelaskan kalau langkah Indonesia membuat mobil nasional masih bisa diwujudkan asalkah dipegang oleh industriawan yang profesional. Esemka menurut Dahlan adalah wahana belajar bagi para siswa agar bisa menyongsong masa depan. Sementara PT INKA yang menciptakan mobil nasional GEA dianggap belum siap untuk masuk ke industri otomotif. INKA diharapkan fokus terlebih dahulu di industri kereta api yang kini sedang berkembang dan hanya membuat GEA sesuai dengan pesanan.
http://oto.detik.com/read/2012/01/17/134557/1817673/1207/-proyek-mobil-nasional-harus-dipegang-oleh-profesional-

8. Mobira, Mobil Rakyat Buatan Depok, Selasa, 17/01/2012 12:05 WIB
Jakarta – Saat ini banyak mobil buatan anak bangsa yang terungkap. Tapi ternyata itu belumlah semuanya. Sebab masih banyak hasil karya anak bangsa yang belum terpublikasi, salah satunya adalah Mobira alias Mobil Rakyat. Mobil ini adalah mobil buatan Depok, Jawa Barat. Mobira adalah sebuah mobil mungil buatan PT Sarimas Ahmadi Pratama yang bermarkas di Depok, Jawa Barat. Tanpa banyak terpublikasi, PT Sarimas Ahmadi Pratama ini ternyata sudah banyak malang-melintang dan memasarkan mobil-mobilnya ke banyak pihak. Bahkan Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam sebuah catatannya mengungkapkan kalau mobil buatan Dasep Ahmadi pantas untuk disokong. “Kalau begitu, siapa yang akan menggarap mobil nasional? Jangan khawatir. Saat ini, sudah ada putra bangsa, lulusan ITB tahun 1984, yang sedang secara serius menyiapkannya. Mobil ciptaannya sudah diuji keliling kampus almamaternya. Dia memang pengusaha permesinan yang andal,” tulis Dahlan. “Sudah banyak melakukan ekspor mesin. Dia putra Indonesia dari suku Sunda yang sangat nasionalis. Dia seorang profesional yang tangguh. Dia akan membangun pabrik yang serius dengan production line yang serius pula. Dia akan memenuhi segala persyaratan sebuah industri mobil yang sempurna,” tambahnya. Adapun Mobira merupakan sebuah mobil mungil yang memiliki dimensi 2.330×1.030×1.500 mm (PxLxT) yang sudah mengusung transmisi otomatis. Berbekal mesin 4 langkah, SOHC berkapasitas 150 cc, mobil ini mampu menyajikan tenaga hingga 10,1 kW di 8.500 rpm dengan torsi 12,8 Nm di 6.500 rpm. Dengan sajian seperti itu, mesin yang memiliki berbandingan boreXstroke 57.3×57.8 mm ini mampu melahirkan efisiensi 16,25 km/liter. Seperti apakah spesifikasi Mobira? Berikut spesifikasinya.
Dimensi
Panjang: 2.330 mm, Lebar: 1.030 mm, Tinggi: 1.500 mm, Wheelbase: 1.670 mm, Jarak pijak: 855 mm, Berat kosong: 265 kg
Sasis
Transmisi: V-Belt otomatis, Suspensi: Teleskopik (depan & belakang), Rem: Hydraulic single disc (depan & belakang), Ban: 8 inci
Mesin
Tipe mesin: 4 langkah, SOHC, Isi silinder: 150 cc, Tenaga: 10,1 kW @ 8.500 rpm, Torsi: 12,8 Nm @ 6.500 rpm, BoreXstroke: 57.3×57.8 mm
Bahan bakar
Jenis: Bensin tanpa timbale, Sistem pengabutan: Karburator, Kapasitas tangki: 9 liter, Konsumsi: 16,25 km/liter
http://oto.detik.com/read/2012/01/17/120550/1817572/1207/mobira-mobil-rakyat-buatan-depok

9. SNMPTN 2012 Usung Semangat Kebersamaan, Jumat, 20 Januari 2012 23:59 WIB
JAKARTA–MICOM: Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012 akan digelar pada Juni mendatang dan kali ini dibangun untuk menggalang kebersamaan. Ketua Panitia Pelaksana SNMPTN 2012 Ahmaloka mengatakan SNMPTN kali ini bukan sekadar melakukan seleksi mahasiswa baru, tetapi juga mengemban nilai yang lebih baik. “SNMPTN tahun ini untuk membangun kebersamaan dan kepercayaan antar-PTN di seluruh Indonesia,” kata Ahmaloka di Jakarta, Jumat (20/1). Turut hadir dalam memberi keterangan, Wamendikbud Musliar Kasim, Dirjen Pendidikan Tinggi Djoko Santoso, Ketua Majelis SMPTN Rektor Indonesia Idrus Paturusi, serta Direktur Institusional Banking Bank Mandiri Abdul Rachman. Menurut Ahmaloka, SNMPTN 2012 merupakan edukasi nasional untuk kejujuran bagi generasi muda terdidik dan melek teknologi. Selain itu, SNMPTN 2012 ada keberpihakan PTN kepada calon mahasiswa miskin dan berprestasi dengan pemberian bea siswa Bidik Misi bagi 30 ribu mahasiswa tersebut. “SNMPTN juga wahana perekat bangsa dalam bingkai NKRI,” kata Rektor ITB ini. Dijelaskan SNMPTN 2008-2009 merupakan konsolidasi membangun sistem, SNMPTN 2010-2011 pengembangan era online serta jalur undangan. “Nah, tahun ini SNMPTN merupakan tahap pemantapan mengintegrasikan bea siswa bidik misi dengan SNMPN,” cetusnya. Wamendikbud Musliar Kasim menyatakan SNMPTN mengapresiasi semua PTN yang mengikuti Permendiknas No 34/2010 bahwa semua PTN harus menerima mahasiswa baru melalui SNMPTN minimal 60 persen, dan melalui ujian mandiri maksimal 40 persen. Abdul Rachman menambahkan Bank Mandiri berkomitmen mengembangkan pendidikan Indonesia termasuk penyediaan layanan perbankan untuk meningkatkan efisiensi pendaftaran SNMPTN. Dijadwalkan pelaksanaan SNMPTN Jalur Ujian Tertulis akan digelar selama dua hari, pada tanggal 12 dan 13 Juni 2012. Sedangkan Ujian Keterampilan akan digelar pada 14 dan 15 Juni 2012. Hasil SNMPTN akan diumumkan pada 7 Juli 2012. Pendaftaran SNMPTN melalui jalur undangan dapat dilakukan mulai 10 sampai 31 Mei 2012 secara online melalui undangan.snmptn.ac.id. Lewat laman itu para pendaftar dapat mengakses segala informasi mengenai tata cara pendaftaran.Tata cara pengisian borang (formulir) pendaftaran jalur undangan dapat diunduh dari laman tersebut mulai 20 Januari 2012. Adapun untuk pendaftaran SNMPTN melalui ujian tertulis dapat dilakukan melalui laman ujian.snmptn.ac.id. Terdapat pula cara pengisian formulir pendaftaran ujian tertulis dan keterampilan yang dapat diunduh dari laman yang sama mulai 11 Maret 2012.http://www.mediaindonesia.com/webtorial/tanahair/?bar_id=MjkyOTky

10. Kelayakan Ambon sebagai Ibu Kota Provinsi Dipertimbangkan, Rabu, 11 Januari 2012 14:36 WIB
AMBON–MICOM: Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menyatakan Ambon sedang dipertimbangkan kelayakannya sebagai ibu kota provinsi yang dibentuk pada 19 Agustus 1945 tersebut karena daya dukung lahan tidak mampu lagi menampung berbagai aktivitas. “Kota Ambon hanya memiliki lahan seluas 377 Km2 dengan penduduk sejumlah 500.000-an jiwa sehingga tidak mampu lagi mendukung berbagai aktivitas, bahkan kemacetan lalulintas meresahkan masyarakat di ruas-ruas jalan utama,” katanya, di Ambon, Rabu (11/1). Karena itu, Pemprov Maluku sedang menyusun program alternatif untuk pemindahan ibukota provinsi ke Pulau Seram yang lahan masih luas di sana sehingga memungkinkan untuk pembangunan maupun pengembangan berbagai sektor. “Jadi, kajian sedang dirampungkan untuk program 25 tahun ke depan guna mempersiapkan lahan guna mendukung pembangunan maupun pengembangan berbagai sarana dan prasarana di Pulau Seram,” ujar Gubernur. Kajian sedang dilakukan tim dari Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon dan Institut Teknologi Bandung (ITB). “Kita perlu mengkaji hingga 25 tahun yang akan datang untuk alternatif pemindahan ibukota provinsi,” kata Gubernur. Dia memaklumi masa kepemimpinan periode keduanya berakhir pada 15 September 2013 sehingga program pemindahan ibu kota provinsi ke Pulau Seram juga tergantung komitmen gubernur berikutnya. “Realitasnya Kota Ambon saat ini sangat padat dengan berbagai aktivitas masyarakat, dengan dampak terjadi berbagai masalah sosial yang sering dipolitisasi antarkomunal,” tandas Gubernur.
http://www.mediaindonesia.com/webtorial/tanahair/?bar_id=MjkwNjA2

11. Jatuh Bangun Kreasikan Aksesori Kulit, By movers Monday January 9, 2012
SETELAH beberapa kali berkirim pesan singkat (SMS), akhirnya sore itu Move berkesempatan untuk bertemu Revi Marcelina di sebuah showroom aksesori miliknya. Di deretan rumah toko (ruko) di Jalan Ciumbuleuit, Bandung, ruangan lantai tiga yang juga difungsikan sebagai toko itu tampak sepi saja. Revi yang menggunakan kaus hitam dan celana jins tampil kasual ketika membuka kunci dan mengajak kami masuk. “Kebetulan pegawainya baru saja keluar. Jadi saya sendiri,” ujarnya menjelaskan. Mahasiswa semester 7 jurusan Kriya Tekstil ITB itu memang terbilang tangguh. Sejak pertengahan 2011 lalu, ia membangun bisnis aksesorinya sendiri bernama Treeasure. Mulai dari desain, perencanaan bisnis, hingga pemasaran ia lakukan solo tanpa rekan bisnis yang membantu. Dengan modal yang juga minim, tentu banyak tantangan yang dihadapi Revi. Apa saja? Simak wawancaranya berikut ini. Kenapa memutuskan untuk membuka bisnis sendiri? Tadinya saya masih ragu apakah selepas kuliah mau bekerja atau bikin usaha sendiri. Tapi, saya lihat kenyataan bahwa ternyata banyak lulusan kriya tekstil yang tidak digaji sepantasnya selepas kuliah. Makanya, saya memutuskan untuk coba berbisnis. Memang butuh keberanian besar, tapi saya coba jalani saja dengan baik. Bisa jelaskan konsep bisnis kamu? Saya menamakannya Treeasure. Artinya bisa dua hal. Pertama, tree yang berarti ‘pohon’. Sengaja saya pilih perlambang ini karena dari tradisi China, pohon biasanya mewakili rezeki yang banyak, hehe. Kedua, bisa juga diartikan treasure atau harta. Harapannya bahwa tiap orang yang datang ke toko ini bisa mendapatkan harta sederhana yang berarti bagi mereka. Seperti tagline-nya, Maybe there is a wonderful little treasure just for you! Apa saja produk yang dijual di toko ini? Utamanya ialah gelang dari kulit yang saya desain sendiri. Walau pernah eksplorasi bahan waktu kuliah, saya akhirnya tetap tak bisa lepas dari bahan kulit yang saya suka. Selain terlihat keren, kulit sapi ini durable dan makin bagus kalau sudah semakin tua. Saya juga mendesain sendiri produk tas, sepatu, dan buku yang bahannya juga dipadukan dengan bahan kulit. Adapun untuk produk nonkulit, saya juga bikin kaus dan pernak-pernik dari akrilik. Bagaimana sih memulai bisnis Treeasure ini? Sebetulnya bisnis ini dimulai pertengahan tahun 2011. Awalnya sempat bareng-bareng temen. Tapi karena tidak sejalan, saya putuskan untuk pisah. Idenya muncul karena saya pernah ketemu orang dari Gusto Sign di acara kampus. Gusto Sign adalah jasa potong laser yang terbilang masih langka di Bandung. Ngobrol-ngobrol, ternyata saya tertarik dengan potong laser ini dan mulai menggunakannya untuk memotong kulit sapi. Ketimbang dipotong dengan tangan, hasil potongan laser memang lebih rapi, akurat, dan lebih murah. Dari situ saya mulai masukin desain dan membuat berbagai aksesori. Berarti kamu melakukan bisnis ini betul-betul sendirian dong? Dari desain sampai penjualan? Bisa dibilang begitu. Setelah mendesain produknya, saya membeli sendiri bahan-bahan dan mengirimnya kepada perajin. Untuk menjualnya, saya juga turun tangan sendiri dengan ikut berbagai pameran atau bazar di Jakarta atau Bandung. Paling enggak sebulan sekali pasti menggelar pameran. Selain itu, saya juga terlibat untuk mengurus toko online di Facebook dan toko ini. Kalau habis kuliah, biasanya saya selalu ke sini untuk mendesain produk baru atau sekedar ngelamun. Menurut kamu, apa sih tantangan yang paling besar menjalankan bisnis aksesori? Karena saya bikin desain sendiri, banyak detail yang harus diperhatikan. Enggak boleh suka-suka kita saja, tapi harus dipikirin betul apakah desain ini akan dibeli orang atau tidak. Hitung-hitungan juga penting, apakah harganya cukup masuk akal atau tidak. Maklum, aksesori kulit ini harganya memang relatif mahal, berkisar Rp60 ribu sampai Rp120 ribu. Di Bandung, harganya belum bisa masuk untuk anak muda. Sambutan di Jakarta yang justru lebih bagus. Tapi, kalau dibandingkan dengan aksesori kulit di luar negeri, sebetulnya masih relatif murah, karena di luar bisa dijual berkisar Rp400-an ribu. Pengalaman apa yang paling kamu ingat ketika menjalankan bisnis ini? Kalau lagi ikut pameran di Jakarta, saya berdua dengan pegawai saya suka naik Trans-Jakarta, ngangkut-ngangkut barang berdua untuk sampai ke lokasi. Kadang rasanya sedih, karena kalau liat stan-stan lain di samping saya, orangnya kelihatan ramai. Mereka bisnisnya bareng-bareng, jadi terlihat asyik sekali, sementara saya cuma berdua saja sama pegawai, hahaha. Kalau masalah keuntungan bagaimana? Awalnya saya berbisnis dengan modal sekitar Rp5 juta. Sampai sekarang, uangnya masih diputar terus. Saya tertolong sekali dengan bazar karena sekali ikutan, saya bisa dapat omzet Rp4 juta sampai bisa Rp10 juta. Enggak tertarik untuk cari partner bisnis? Mau banget! Tapi saya ngerti bisnis itu enggak semudah yang dibayangkan. Sampai saat ini sih masih belum mendapat partner yang cocok. (M-6) Biodata Nama: Revi Marcelina Tempat, tanggal lahir: Bandung, 21 Maret 1988 Pendidikan: Kriya Tekstil Institut Teknologi Bandung (ITB) 2008 Hobi: jalan-jalan, hiking, baca, gambar, ngelamun. Produk: Treeasure Workshop: Jl Ciumbuleuit 151 A, Bandung E-mail: treeasureshopFacebook Page: Treeasure Shop-
http://www.mediaindonesia.com/move/?p=2197

12. Pasti, Mobil Pribadi Wajib Pakai Pertamax April 2012, 31 Desember 2011 01:55 WIB
(ANTARA/Rosa Panggabean/as) YOGYAKARTA–MICOM: Pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada Dr Anggito Abimanyu memastikan pemerintah akan memaksa para pengguna mobil pribadi untuk tidak menggunakan premium dan harus beralih ke pertamax. Kepada wartawan di kampus setempat, Anggito mengemukakan, pelaksanaanya sudah bisa diketahui mulai April 2012. “Ini sudah pasti,” tegasnya. “Itu sudah merupakan perintah undang-undang. Dalam UU APBN sudah memastikan itu,” katanya. Eks calon Wakil Menteri Keuangan itu mengatakan, jika pemerintah tidak melaksanakan berarti pemerintah melanggar undang-undang. Sebetulnya, tim peneliti dari UGM, ITB, dan UI pernah merekomendasi dilakukan secara berkala, tidak sekaligus seperti perintah UU APBN kali ini. Ia menegaskan, meski untuk tahap itu dilaksanakan di Jawa dan Bali, namun dampaknya akan sangat besar. “Dampak inflasinya bisa mencapai 5% hingga 7%,” katanya.
http://www.mediaindonesia.com/webtorial/tanahair/?bar_id=Mjg4MTc3

13. ITB Diminta Dampingi SMK dalam Berkarya, TJ Online, Kamis, 19 Januari 2012 | 16:59 WIB
BANDUNG, TRIBUN – Institut Teknologi Bandung (ITB) diminta oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk ikut mendampingi SMK dalam mengembangkan karya atau produk dari siswanya. Pendampingan ini dimaksudkan agar keberadaan produk SMK tersebut bisa berlanjut. Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni ITB Prof Hasanuddin Z Abidin mengatakan, hasil karya siswa SMK harus terus di dorong. Pendampingan ITB lebih pada pengkajian serta membantu terutama dari tim Teknik Mesin dan Dirgantara ITB. Selain pendampingan dari ITB, pihaknya juga berharap peran serta pemerintah karena karya atau produk siswa SMK akan sulit bila harus bersaing dengan produk yang memang sudah memiliki nama. “Secara teknis, memang belum tahu sampai sejauh mana ITB membantu dan mendampingi. Mungkin ikut membantu dalam hal kajian dan akselerasi. Tapi memang harus dibantu, namu harus ada pula keberpihakan dari pemerintah. Karena tidak mungkin SMK bertarung dengan Toyota atau Honda,” kata Hasanuddin usai acara jumpa pers The 10th Triple Helix Conference di Lounge ITB 84 Jalan Tamansari, Kamis (19/1). Untuk langkah awal, ujarnya, fokus pertama ditujukan terhadap mobil Kiat Esemka yang dihasilkan oleh siswa SMK di Kota Solo. Selain harapan kepada pemerintah, masyarakat juga mau menggunakan produk-produk lokal karya anak bangsa ini. Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Wawan Gunawan mengatakan, pendampingan ITB bukan hanya mobil Esemka di Solo, melainkan semua produk-produk SMK di Indonesia. Dan yang akan didorong dalam pendampingan ini adalah proses industrialisasi dari produk-produk SMK tersebut.
http://m.tribunjabar.co.id/read/artikel/128217/ITB-Diminta-Dampingi-SMK-dalam-Berkarya

14. The irony of science education in Indonesia, Ziad Salim, Jakarta | Sat, 01/21/2012 1:32 PM
One of the most bizarre contradictions in science education in Indonesia is that every year we are treated with the sight of young Indonesians proudly returning home from overseas (and not just from Asia but from as far as Europe) with trophies and medals they have won in science and mathematics Olympiads and even robotics in America. Recently, we read and saw in the media that a bunch of young vocational high school students managed to put together a “national car” that eluded even the money-laden children of Soeharto. Every October we read the list of scientists of the world that win Nobel Prizes and there isn’t a single Indonesian name there and it has been like this for years while some other countries in similar positions have gotten one or two of their scientists on the list (Egypt, Pakistan and India). Even if we examine the less visible indications, the scientific prowess of a country (i.e. the number of scientific articles authored by its scientists), Indonesia ranked 71st of 163 countries listed (for the year of available data, 2003), below all its closest ASEAN neighbors (including Singapore, 28th, Thailand, 41st and Malaysia 51st). What is going on here? A few weeks ago the government requested that universities and research institutions supply up to 25 percent of their research budgets on their own while so far they have been receiving less than 1 percent of such support. This is in a country that ranks among the lowest in terms of R&D allocation per GNP in the world (0.07 percent GNP or ranked 48th out of 72 countries surveyed in 2010). Then vice president Jusuf Kalla visited the Bandung Institute of Technology (ITB) and the Indonesian Institute of Sciences (LIPI) and openly stated that perhaps both should just be dismantled because they weren’t doing any meaningful research. For ITB, he specifically lamented the fact that Indonesians were fond of eating fruit from Bangkok but there were no “ITB fruits”. I caught a glimpse of the answers to this discrepancy when I was working in an international science scholarship program a while back. While applicants from Pakistan and Turkey and other countries were listing their records of publications in internationally refereed journals, their Indonesian counterparts listed articles written in obscure journals in the country, including short pieces written in various national newspapers. Then, after a few of them were granted the scholarships and eventually graduated with PhD degrees, I went around to see what they were doing. To my surprise (and disappointment), all of them were sitting behind big desks in three-piece suits as director of this and director of that in research institutions and dean of this and that faculty in universities. But when I got to North America to check on those that had delayed their returning home after securing their PhDs (including some from other countries), they were all in the labs, dressed in white or green garbs getting their hands and feet dirty, literally, while doing research. In Indonesia, apparently young students are creative and determined even without any fancy labs. They pick up electronics and other scientific items off the shelves at the local stores and work together with their friends to put together little machines that can win international competitions — compliments to our youth, not all of whom wanted to become famous by lining up for audiences in Indonesian Idol or young preachers contests. But when they get to the universities, then they stumble into problems of lack of money, lack of facilities and even lack of support and guidance. Even if they succeed in earning their advanced degrees, they then teach all over the place to make ends meet and aspire for a “position” and “promotion”. In other words, they want to become what I call “bureaucratic scientists”. Culturally, apparently Indonesians regard the achievement of a high degree as a sign of having “arrived” and should now be rewarded with high positions. As high school students, Indonesian youths excel in their science education, work hard to obtain their high degrees but then settle down behind big desks to enjoy the fruits of their labor afterwards. In the West, similar young scientists will start rolling their sleeves precisely after their PhDs and then 10 years later their parents and colleagues will be proud (but not surprised) to read their names in the list of Nobel Prize winners. It is a pity that the government is not seeing this and other contradictions in science teaching in Indonesia and strives to remedy it, for our youths, their future and ours. Indonesia cannot afford to continue to delude itself by thinking that it can grow and grow economically by cannibalizing its so-called natural resources. Countries are like people (after all they are run and ruined by people) and can succumb to the same universal effect of isomorphism, i.e. whether you are a farmer, a mining company or a country, if you keep digging (for whatever it is, whether it is for oil, coal, or gold), you will eventually fall into holes. But one thing you can always exploit indefinitely and that will never go away is the brains of your people. In fact the more you dig into them, the bigger they become. Our young people have shown the way, but why we fail to harness their brains, cultivate their vigorous and enthusiastic young minds and even harvest the results of their scientific works is one of the mysteries of science education (or lack of it) in Indonesia.
http://www.thejakartapost.com/news/2012/01/21/the-irony-science-education-indonesia.html

15. SNMPTN Tahun Ini Lebih Ketat, Tuesday, 24 January 2012
BANDUNG– Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012 akan diintegrasikan dengan kelulusan ujian nasional (UN). Ketua Umum Panitia Pelaksana SNMPTN 2012 Akhmaloka mengatakan, SNMPTN tahun ini akan lebih ketat karena ada dua variabel yang digunakan yaitu nilai UN dan SNMPTN. “Kita kombinasikan siswa yang nilai UN-nya bagus (lulus) dan hasil SNMPTN-nya juga bagus, itu yang akan diterima dan layak masuk perguruan tinggi negeri,” ujar Akhmaloka, kemarin. Mekanisme tersebut berlaku untuk dua jalur SNMPTN, yaitu jalur undangan dan ujian tulis. Jalur undangan, siswa diseleksi melalui nilai rapor dan ranking di sekolah yang dinyatakan nilainya bagus. Namun bila UN tidak lulus,maka siswa tidak akan diterima di perguruan tinggi negeri.“Selain itu kalau ujian tulisnya bagus, tapi UN tidak bagus tidak akan diterima di PTN,” kata Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini. Adanya kebijakan pemerintah pusat yang akan menjadikan nilai atau kelulusan UN sebagai evaluasi akhir mendapat sejumlah reaksi dari berbagai kalangan. Salah satunya dari pakar pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Said Hamid Hasan. Menurut dia,perlu kebijakan baru dalam pelaksanaan UN sehingga tidak merugikan siswa. Ada perbedaan antara desain UN dan SNMPTN. Desain UN adalah achievement test untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar dari apa yang sudah dipelajari. Sementara desain SNMPTN adalah desain predictive test, yaitu menentukan prediksi apakah seseorang akan berhasil dalam program studinya. “Kalau UN mau dijadikan alat menentukan kelulusan ke perguruan tinggi, desainnya harus diubah menjadi predictive test dan siswa SMA yang tidak mau ke perguruan tinggi tidak perlu ikut, mereka dinyatakan selesai berdasarkan ujian sekolah saja. Hal seperti itu yang seharusnya terjadi,” ungkap Said. Dengan adanya perubahan desain tersebut, UN hanya diikuti oleh siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Sementara yang tidak melanjutkan cukup mengikuti ujian sekolah, sehingga tidak perlu tes dua kali bagi siswa yang mau ke perguruan tinggi.“UN sekarang dihapuskan dan SNMPTN diganti menjadi UNMTN, desain dan soalnya dikembangkan oleh perguruan tinggi. Kalau seperti ini tidak ada siswa yang akan dirugikan,” ujar Said. Akan tetapi, kebijakan menjadikan UN evaluasi akhir kelulusan SNMPTN 2012 belum sesuai dengan yang dipaparkannya, sehingga kedua tes tersebut berjalan sendiri-sendiri. Said juga mempertanyakan apakah nantinya perguruan tinggi mau menerima sistem baru tersebut atau tidak. “Kecuali kalau mereka takut ke menteri.Nah kalau rektor takut ke menteri,ya sudah habislah pendidikan kita,”ucapnya. Rektor UPI Sunaryo menambahkan, bila kelulusan SNMPTN merupakan gabungan nilai UN dan SNMPTN, hal ini belum dibicarakan di Majelis Rektor.“Bisa saja cara ini digunakan, tapi bobot penilaian tetap ada di SNMPTN,karena aspek dan tujuan yang diukur dalam UN dan SNMPTN berbeda,” katanya. Menurut dia, nilai UN belum bisa digunakan langsung sebagai alat seleksi masuk PTN.Cara ini masih belum bisa dilakukan karena UN masih mengandung banyak persoalan dan alat evaluasi (tes) yang digunakan tidak didesain untuk keperluan seleksi. “Jika kelulusan UN digunakan sebagai syarat masuk PTN, sehingga hasil SNMPTN, baik undangan maupun tertulis, bisa dinyatakan gagal bila siswa tidak lulus UN,hal ini sama dengan tahun lalu. Artinya, kelulusan UN menjadi syarat untuk ikut SNMPTN dan masuk PTN.Hal ini terjadi jika SNMPTN digelar sebelum kelulusan UN diumumkan,” jelas Sunaryo. http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/463021/37/

16. Persiapan SNMPTN- PTN Tetap Waspadai Perjokian, Tuesday, 24 January 2012
JAKARTA – Sejumlah perguruan tinggi negeri masih khawatir munculnya joki saat pelaksanaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Idrus A Paturusi mengatakan, empat tahun lalu dirinya menangkap satu orang joki saat SNMPTN. Dari satu joki itu, berlanjut pada penangkapan 13 orang lainnya yang berstatus sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Idrus mengatakan, selain meningkatkan pengawasan dengan menambah jumlah pengawas, mulai tahun ini pemerintah akan membagi ruang peserta SNMPTN dengan peserta yang gagal tahun sebelumnya. ”Peserta SNMPTN 2011 yang ikut lagi padatahuniniakandimasukkan ke ruang khusus,”ungkap Idrus di Jakarta kemarin. Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini menjelaskan, pemisahan ini berdasarkan pengalaman tahun lalu di mana ada peserta SNMPTN yang memergoki temannya yang sudah diterima di jurusan kedokteran. Idrus berharap, dengan metode semacam ini joki semakin mudah diberantas. Menurut Idrus, ujian tulis di SNMPTN memang masih belum dianggap kredibel karena adanya joki dan dugaan kebocoran soal.PTN, ujarnya, lebih mengutamakan calon mahasiswa dari jalur undangan dibandingkan jalur tes tertulis. Mereka langsung diundang sendiri oleh pihak kampus dan Ujian Nasional (UN) menjadi alat kontrol nilai mereka. ”Kami memang melihat nilai rapor mereka.Namun, bisa saja sekolah membantu siswa dengan mengatrol nilai. Karena itu, kami lihat nilai UN-nya juga.Kalau nilai UN-nya jeblok sedangkan nilai sekolahnya tinggi, itu patut dicurigai dan tidak lulus SNMPTN jalur undangan. Sebaliknya, jika siswa itu di sekolahnya berperingkat 15 namun UN-nya tinggi, itu akan kami prioritaskan masuk,” paparnya. Idrus menjelaskan, SNMPTN untuk jalur program studi favorit seperti kedokteran memang patut diwaspadai, sebab banyak orang tua yang rela membayar Rp150 juta kepada joki ataupun oknum lain agar anaknya berhasil masuk jurusan tersebut. Idrus pun mengusulkan agar seluruh calon mahasiswa jurusan kedokteran direkrut dari jalur undangan. ”Mungkin bisa saya mulai di Unhas,”urainya. Idrus pun mengungkapkan, berdasarkan penelitian indeks prestasi mahasiswa dari jalur undangan, lebih tinggi dibandingkan dari jalur tes tulis. Rektor ITB Akhmaloka yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia SNMPTN 2012 menyebut, untuk SNMPTN jalur undangan penilaiannya didasarkan dari seleksi rapor dan UN. Namun jika hasil rapor sekolahnya bagus, sedangkan UN-nya jeblok, maka tetap dinyatakan tidak lulus SNMPTN. Akhmaloka menjelaskan,sekolah yang akan diterima pun terbagi atas akreditasi A,B,dan C.Untuk akreditasi A, siswa yang diterima mencapai 50%. Akreditasi B mencapai 30% dan akreditasi C sebanyak 15%. Untuk siswa dari sekolah yang belum terakreditasi, persaingannya akan semakin ketat karena hanya 5% yang akan diterima.
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/462966/34/

17. Lace Up & Oxford Batik Shoes – Sepatu Cantik dari Limbah Batik, Wednesday, 18 January 2012
Nilai tradisional dan modern merupakan dua sisi yang berbeda.Namun, jika keduanya dikolaborasikan, maka akan menghasilkan kreasi seni baru yang inovatif.Perpaduan dualisme sentuhan itulah yang berhasil diramu dalam produk sepatu batik kulit bergaya lace up dan oxford. Modifikasi itu dituangkan Agnes Tandia.Mahasiswa S-2 Fashion Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menerabas pasar batik di Tanah Air lewat rancangan sepatu batiknya yang fashionable dengan membidik pangsa kawula muda. Desainnya mengusung Kulkith.Awalnya, pada pertengahan 2009 Agnes hanya mengolah bahan limbah batik yang dimanfaatkan sebagai bahan modifikasi sepatunya. Namun, seiring pamornya yang kian melesat, dia mulai menggunakan kain batik Jabar sebagai bahan utama. Nah, pada 2012 Kulkith yang ditampilkan bergaya lace updan oxford.Jati diri lace up, tak ubahnya flat heels shoes dengan modifikasi aksen tali berlubang. Menariknya, dalam merancang sepatu lace up dan oxford ini tidak hanya mengusung satu jenis motif dari daerah tertentu. Sejauh warna dan coraknya masuk pada selera remaja, Agnes langsung merealisasikan pemikirannya itu untuk diproduksi. Sementara, motif batik yang menjadi inspirasi adalah motif batik dari Garut, Tasikmalaya, Cirebon, dan beberapa daerah yang dinilainya memiliki motif unik. Daya tarik sepatu ini juga ditampilkan dengan pemilihan warna yang berani. Lihat saja koleksinya,sebagian besar warna yang digunakan,seperti oranye, merah, ungu,hijau,biru,dan warna cerah lainnya.Untuk menciptakan kolaborasi yang apik, Kulkith mendapuk bahan kulit asli dari kambing dan sapi sebagai bahan utama. “Saya sangat memerhatikan tren warna yang sedang disukai anak muda, tapi warna dasar seperti hitam,putih, cokelat,dan putih juga masih diminati. Mereka menyukai warna dasar itu karena lebih gampang dipadu-padankan dengan baju warna apa saja,”ucapnya. Semula Agnes memanfaatkan kain perca untuk mendesain sepatunya itu. Namun, animo masyarakat cukup baik. Dia pun mulai serius melestarikan warisan budaya batik melalui Kulkith dan konsisten menggunakan aneka motif batik Jabar. “Beruntung, ciri khas motif Jabar selalu cerah ceria dan modern sehingga cocok dikenakan kawula muda,”tutur Agnes. Tren sepatu lace up dan oxford diadopsi dengan pertimbangan modelnya yang wearable dan fleksibel.Biasanya, pengguna jenis ini berada pada usia 15-25 tahun dengan karakter ceria dan dinamis. Lace up juga sangat luwes karena sepatu ini bisa dipadankan dengan beragam pakaian sehari-hari.Sepatu ini juga bisa digunakan dalam forum formal atau semiformal. “Lace up itu arahnya lebih ke feminin, sementara oxford lebih unisex dan kasual. Namun, sepatu ini dasarnya bisa dikombinasikan dengan model baju apa saja, seperti skinny jeans, pants, mini dressatau maxi dress,” katanya. Sepatu ini sifatnya ringan, easygoing, tapi bisa juga masuk pada forum resmi. Tak heran jika para pelanggannya datang dari mereka yang suka batik.Bukan saja kalangan dewasa, juga kalangan anak muda, mulai pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa. Untuk mendapatkan sepatu ini, Anda bisa datang ke galerinya di Setra Indah. Selain itu sepatu ini juga bisa dipasarkan lewat situs jejaring sosial Facebook dan Twitter.Tak heran, loyal customer Kulkith pun sudah merambah ke beberapa daerah dan mancanegara. “Penyuka sepatu batik saya sudah meluas di semua daerah di Indonesia. Untuk mancanegara, saya biasa mengirim ke Malaysia, Jepang, dan Belanda. Kebanyakan mereka memesan jenis flat heels cewek seperti lace up, oxford dan modifikasinya,”sebutnya. Melihat dinamika tren, sebenarnya lace up dan oxford sudah terasa sejak tahun lalu. Istimewanya,Kulkith memetik desain dengan usungan aneka motif batik khas Jabar.Alhasil,sepatu lace up besutan Agnes banyak diincar lantaran kekentalan gaya etniknya.
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/461186/36/

via Prof. Dr. Hasanuddin Z. Abidin Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan dan Alumni (WRKMA) ITB
ditulis ulang oleh Dwininta W.
Biologi 2007 | Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB
Biro Komunikasi dan Informasi Keluarga Mahasiswa ITB
“Antusias, Satu, dan Inisiatif dalam Berkarya untuk Indonesia”

__._,_.___

One comment

  1. http://fastingforweightloss.net · · Reply

    It’s really a nice and useful piece of information. I am satisfied that you simply shared this helpful information with us. Please keep us informed like this. Thanks for sharing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: